Cara Mencari Research Gap Skripsi dan Merumuskan Novelty

Menentukan topik skripsi sering terasa mudah sampai muncul pertanyaan: “Apa yang belum diteliti, dan apa kebaruan penelitian saya?” Research gap adalah persoalan atau pertanyaan yang belum terjawab secara memadai dalam penelitian terdahulu. Novelty adalah kontribusi baru yang ditawarkan penelitian untuk menanggapi persoalan itu. Perpustakaan UMY menjelaskan gap sebagai celah dalam pengetahuan yang ada, sementara novelty menyoroti aspek orisinal yang membedakan studi baru dari studi sebelumnya (Perpustakaan UMY).

Karena itu, jangan memulai dengan klaim “belum pernah diteliti” hanya karena pencarian pertama belum menemukan artikel. Bangun argumen dari bacaan yang terarah, lalu pastikan topiknya layak dan dapat dikerjakan untuk skripsi S1.

Bedakan gap dan novelty

Gap menjawab “bagian mana dari pengetahuan yang masih kurang?” Kekurangan itu bisa berupa isu yang belum dikaji, pembahasan yang masih terbatas, temuan yang saling berbeda, bukti yang sudah usang, atau metode dan konteks yang belum memadai. Panduan Perpustakaan University of Chicago menyebut gap konseptual, metodologis, atau empiris sebagai area dalam penelitian terbitan yang belum dieksplorasi, kurang dieksplorasi, atau sudah ketinggalan; panduan itu juga mengingatkan bahwa tidak semua gap bernilai atau layak diteliti (University of Chicago Library).

Novelty menjawab “apa sumbangan baru yang akan diberikan penelitian ini?” Wujudnya dapat berupa sudut pandang, pengujian, metode, data, atau konteks yang memberi pemahaman tambahan—bukan sekadar mengganti nama lokasi. Tidak harus berarti menemukan teori besar yang belum pernah ada. Namun, kontribusinya perlu dijelaskan dan didukung telaah pustaka, bukan dinyatakan sendiri.

Langkah mencari research gap skripsi

1. Batasi topik menjadi pertanyaan yang bisa diteliti

Mulai dari minat atau masalah yang sesuai bidang studi, lalu persempit berdasarkan konsep, populasi, tempat, waktu, atau metode. Contoh topik luas “media sosial dan belajar” bisa diarahkan menjadi “bagaimana penggunaan video pendek untuk belajar berkaitan dengan kebiasaan belajar mahasiswa tahun pertama di satu program studi?” University of Michigan menyarankan topik dieksplorasi lalu difokuskan; pertanyaan penelitian sebaiknya dapat dijawab dengan fakta atau data yang tersedia, cukup terbuka, dan tidak terlalu luas maupun sempit (University of Michigan Library).

2. Cari dengan kata kunci dan sinonim

Susun istilah Indonesia dan Inggris untuk konsep utama, populasi, serta hasil yang diteliti. Coba beberapa gabungan kata kunci di Google Scholar, Garuda, repositori kampus, atau pangkalan data yang disediakan perpustakaan. Telusuri artikel jurnal, skripsi relevan sebagai petunjuk awal, dan terutama tinjauan pustaka atau artikel review. Catat rentang tahun dan kriteria pemilihan supaya pencarian tidak sekadar memilih tulisan yang mendukung dugaan awal. Panduan University of Arizona menganjurkan menyusun strategi kata kunci, menentukan cakupan, lalu mencari dan menganalisis pustaka secara kritis (University of Arizona Libraries).

3. Baca dan bandingkan, jangan hanya mengumpulkan PDF

Untuk setiap sumber inti, catat pertanyaan/tujuan, teori atau konsep, metode, sampel atau data, hasil, keterbatasan, dan saran riset lanjut. Periksa bagian pembahasan dan keterbatasan, tetapi jangan langsung menyalin “penelitian selanjutnya perlu…” sebagai gap milikmu. Bandingkan beberapa studi: apakah hasilnya berbeda, kelompok tertentu belum terwakili, konsep belum diuji bersama, atau metode yang dipakai belum menjawab pertanyaan tertentu? Penerbit Elsevier juga menyarankan pencarian dengan kata kunci, penelusuran publikasi terkait, dan membaca review untuk mengenali kecenderungan serta area yang perlu dikaji (Elsevier Researcher Academy).

4. Susun tabel gap sementara

Tabel sederhana membantu melihat pola, tetapi isinya harus berasal dari sumber yang benar-benar dibaca. Contoh berikut hipotetis, bukan ringkasan temuan nyata:

Studi yang dibandingkanPola yang terlihatKemungkinan gap untuk diperiksa
Studi A dan B meneliti niat memakai pembayaran digital pada mahasiswaKeduanya mengukur niat, bukan pengalaman setelah pemakaian berulangApakah pengalaman penggunaan berulang belum cukup dijelaskan pada populasi yang dipilih?
Studi C meneliti faktor kemudahan pada pengguna dewasaPopulasi berbeda dari fokus skripsiApakah hasil dapat diterapkan pada mahasiswa? Periksa dulu studi mahasiswa lain sebelum menyebutnya gap.
Studi D dan E melaporkan hubungan yang berbedaKesimpulan belum konsistenApakah perbedaan sampel, pengukuran, atau konteks menjelaskannya?

Kolom tambahan seperti tahun, metode, keterbatasan, dan tautan/DOI akan membuat jejak bukti mudah diperiksa. Jika literatur ternyata sudah menjawab pertanyaanmu, revisi fokus alih-alih memaksakan gap.

5. Rumuskan gap, lalu nyatakan novelty

Gunakan pola: “Penelitian terdahulu telah membahas [apa yang diketahui], tetapi [kekurangan spesifik yang didukung perbandingan sumber] masih belum jelas pada [konteks/batasan]. Karena itu, penelitian ini akan [pertanyaan/tujuan] dengan [pendekatan yang sesuai], untuk memberi [kontribusi yang diharapkan].” Isi bagian dalam kurung hanya setelah verifikasi. Contoh hipotetis: “Studi yang ditelaah telah membahas niat adopsi pembayaran digital, tetapi pengalaman penggunaan berulang pada mahasiswa program X belum cukup dipahami. Penelitian ini menguji pengalaman tersebut melalui wawancara, untuk menggambarkan faktor yang muncul dalam konteks itu.” Novelty-nya bukan otomatis “lokasi baru”; kontribusi yang masuk akal mungkin pemahaman kontekstual yang spesifik, jika tinjauan pustaka membenarkan klaim tersebut.

Letak gap dan novelty dalam proposal

Dalam banyak format skripsi, ringkasan masalah dan alasan pentingnya gap muncul di Bab I, lalu argumen diperkuat melalui perbandingan teori dan penelitian terdahulu di Bab II. Namun, susunan, nama subbab, dan penempatan novelty tidak seragam antarprogram studi. Gunakan pedoman penulisan prodi dan arahan pembimbing sebagai acuan utama. Untuk konsultasi, bawa tabel sumber serta satu-dua rumusan gap alternatif, bukan hanya judul.

Sebelum menetapkan topik, uji relevansi, manfaat, etika, akses data, waktu, dan kemampuan metode yang tersedia. Jika bukti masih tipis, tulis dengan batasan yang jujur—misalnya “pada sumber dan cakupan pencarian yang ditelaah”—bukan menyatakan mutlak tidak ada penelitian. Itulah dasar yang lebih kuat untuk merumuskan novelty dan proposal yang dapat dipertanggungjawabkan.

Referensi